Friday, June 12, 2015

150611 - Petualangan Sehari di Jakarta #3

Gue punya life goal. Gue yakin semua orang punya life goal. Entah itu life goal cetek atau life goal ambis, misalnya mau punya pesawat pribadi atau mau menguasai dunia bikini bottom kayak Plankton. Terserah. Yang penting life goal.

Life goal gue termasuk dalam golongan yang cetek. Jika kalian pintar maka dari judul pun seharusnya kalian bisa tahu apa life goal gue. Tapi gue tidak memaksa kalian untuk menjadi pintar, tidak. Karena gue tahu kapasitas otak pembaca-pembaca blog ini, tidaklah jauh berbeda dari yang menulis.

Belum tau juga? Oke, gue kasih tau. 

Life goal gue adalah.....

pergi ke semua mall yang ada di Jakarta.

Sebelum kalian buka mulut dan mengeluarkan kata kampungan atau sinonimnya, biarkan diri ini menjelaskan.

Pertama kali gue menganggap mempunyai life goal itu kayaknya keren dan lucu itu dari film A Walk to Remember yang gue tonton pas smp dan masih menjadi film favorit gue sampai sekarang. Walaupun memang tokoh utamanya membuat life goal karena hidup dia sendiri pun sudah tidak lama lagi. Tentu bukan bagian di situnya yang menurut gue kayaknya keren dan lucu.

Usaha. Mau sekecil apapun life goal yang lu punya. Mau secetek apapun. Tapi kalau orang lain ga bisa, dan ternyata lu bisa karena sebuah usaha, maka lo patut bangga. Tentu kita pun harus menjadi manusia yang pintar dalam membuat life goal, jangan buat life goal seperti "Gue mau selama liburan seharinya tidur 12 jam". Itu memang mungkin membutuhkan usaha; usaha biar gimana lo tidur selama itu tapi ga diteriakin sama nyokap buat ngangkat jemuran, misalnya. Well, itu mungkin dalam kasus gue aja.

Usaha yang gue maksud di sini adalah usaha yang memerlukan pengorbanan. Life goal gue sendiri jelas memerlukan pengorbanan waktu, tenaga dan uang. Terakhir yang paling berat.

Mungkin habis membaca prolog singkat di atas, kalian bakal masih mengomentari life goal gue yang cetek tersebut. Terus gue harus apa? Gue harus buat life goal yang kayak gimana? Yang ambis semacam life goal yang dibuat sama Mandy Moore di A Walk to Remember? Gue mau aja, tapi sulit.

Di film, dia mau masuk sekolah kedokteran. Gue juga mau, tapi gue dari ips. Sulit.

Terus dia mau berada di 2 tempat dalam waktu yang bersamaan. Gue juga mau, tapi caranya gue harus terbang dulu ke Kalimantan terus menerobos hutan-hutan buat berdiri di perbatasan Indonesia - Malaysia. Sulit.

Ada juga dia mau nikah di tempat dulu orangtuanya nikah. Gue juga mau, tapi orangtua gue nikah di Flores. Jadi gue harus terbang dulu ke Flores. Sulit.

Jadi kalian ga bisa mencemooh life goal gue yang walaupun terkesan cetek itu , tapi sangat membutuhkan usaha yang keras.


Oke, cukup untuk kata-kata sok bijaksananya. Mari kita ke inti cerita.



Kali ini, teman berpetualang gue ke Jakarta adalah Nadya. Para pembaca tentu tidak bisa melupakan sosok Nadya Alifa yang mana di postingan ulang tahun gue sebelumnya dengan sangat menjijikan  khas dirinya, dia memberikan gue sebuah video dimana tuh anak menyayikan lagu ulang tahun dalam Bahasa Korea, tapi cuma bagian bibir yang dishooting. Gue sampai speechless.

Anyway, rencana jalan kita ini udah diomongin sejak lama. Tapi karena ada UAS dan berbagai halangan lainnya, kita baru bisa jalan sekarang. Seperti biasa, Nadya yang jadi guide gue karena dia tidak malu untuk bertanya sehingga gue yakin kita tidak akan tersesat di jalan.

Tujuan kita kali ini adalah Pantai Indah Kapuk atau PIK. Gue sering denger tentang PIK. Yang gue ga sering denger adalah bahwa di sana ga ada mall. Adanya kawasan yang isinya macem-macem resto dan kafe di sepanjang jalan. Gue dan Nadya baru tau hal itu H-1. Tapi karena udah terlanjur menyusun rencana, kita tetep pergi.

Rencana janjian ketemuan di Stasiun Jakarta Kota jam setengah sepuluh. 

Kita dateng jam setengah sebelas. 

Hmmm...

Hawa-hawanya mulai ga enak, pikir gue.

Lanjut naik Busway tujuan Pluit dan diturunkan sampai di depan PIK. Baru nginjek tanah, si Nadya keluar noraknya.

" Sa! Gue pengen foto di situ! "



Sehabis foto, kita langsung lari kencang sambil tutup muka.


Tujuan pertama kita adalah sebuah kafe bernama Pungopang. Tapi karena kafe nya belum buka, kita pun jalan-jalan sebentar sambil mikir enaknya makan siang di mana.

Belum lama jalan, udah ada yang bikin kesel.

" Mau kemana? Nyari kerjaan ya? " kata satpam sekitaran PIK.

" ........ "

" ........ "


Untung sudah mau bulan Ramadhan pak. 



Karena lumayan jauh juga kita jalan-jalan, akhirnya kita memutuskan buat makan dulu di resto Jepang. Ga ada yang penting di resto Jepang itu selain kita makan dengan sangat awkward karena berasa diliatin mas-mas waiter nya terus.

Setelah perut kenyang, kita pun kembali ke tujuan awal, yaitu Pungopang.











Nadya's order : Green tea Pongupang


Writer's order : Horlicks Parfait


Overall menurut gue tempatnya asik buat nongkrong. Harga dibawah 50k sih emang, tapi menurut gue masih cukup mahal. Rasanya sendiri sih ya enak, gimana sih makanan mahal kalau dibilang ga enak kayaknya gimana gitu.

Tapi, si Nadya pas gue tanya gimana rasa Pongupang nya (waffle bentuk ikannya), dia dalam 1 detik langsung ngejawab "Ga enak".

Gue cuma cobain dikit sih dan emang iya ga sesuai ekspetasi gue. Bahkan di tengah perjalanan menghabiskan Pongupang nya, si Nadya kesel karena bagian dalem nya gosong. Padahal sebelumnya gue kira itu lapisan cokelat. 

Dan menurut gue green tea nya aroma seaweed nya kerasa banget, jadi gue berasa makan es krim rumput laut. Hmm...cuma lama-kelamaan enak sih.

Dan si Nadya tambah kesel karena pesenan dia ga dikasih cup, alhasil tuh es krim dia meleleh-leleh dah ke tangan. Sedangkan gue perhatiin, pengunjung lain yang pesen Pungopang juga dikasih sekalian sama cup nya.






" Pungopang nya gosong... " kata Nadya dengan sedih :(


Ada kejadian yang menurut gue cukup aneh di Pungopang. Jadi ceritanya, dikasih tau bahwa kita harus bayar di awal. Habis kita pesen, si Nadya langsung ke kasir bawa uangnya. Tapi kata mbak nya malah disuruh tunggu nanti. Ya udah tuh anak balik lagi.


Pas pesenan kita dateng, si mbak nya ngasih struk ke kita. Ya gue pikir emang bill nya kan. Tapi pas gue udah mau buka mulut makan parfait nya sambil ngeliatin tuh bill, gue merasa ada yang aneh.



Gue langsung berhenti makan.



" Loh, Nad, ini kok bill nya aneh?? KOK UDAH DIBAYAR?? " kata gue kaget.



" Ha? Kok bisa? Gue belom ngasih uang nya loh, " kata Nadya yang ikutan kaget.



Kita memperhatikan bill yang udah dibayar itu dengan seksama.



" Tadi gue mau bayar di tolak, giliran sekarang udah dibayar. Udahlah Sa, makan dulu aja kita ". kata Nadya sambil makan Pungopang rumput laut nya.


Akhirnya kita makan dulu dan membiarkan struk yang sudah terbayarkan itu tergeletak di atas meja. Sempet beberapa kali kita hampir tergoda untuk langsung pulang. Siapa tau emang ada orang berbaik hati yang ternyata udah bayarin kita. But, to good to be true, karena ga mau dapet apa-apa di jalan, kita tetep jujur dan bayar langsung ke kasir. HE HE HE HE

Dan kebingungan maksimal terjadi waktu kita mau pulang. Jadi awalnya, dari Stasiun Jakarta Kota ke PIK kita naik busway. Dan busway itu ternyata begitu sampai di kawasan PIK, terserah kita mau turun dimana, kita yg bilang ke petugas busway nya, karena di sekitaran PIK emang ga ada halte busway.

Bego nya, kita baru inget pas pulang, ga sempet nanya ke petugas nya pas berangkat gimana cara mau naik busway lagi kalau dari PIK. Akhirnya kita nanya satpam, dan kata dia tunggu aja di seberang jalan, nanti busway nya lewat.

Akhirnya, di tengah terik matahari sore, di pinggir jalan, kita berdiri nunggu busway yang tak kunjung lewat juga. Udah sempet ditawarin angkot, tapi kita kekeuh buat nunggu busway. Sempet kepikiran mau naik truk yang banyak lewat, tapi setelah dipikir-pikir, harga diri kita lebih penting daripada bisa pulang.

Ga beberapa lama muncul juga busway nya, dan kebingungan melanda kembali.

" Eh, itu bener busway kita berhentiin aja? Emang bisa? " tanya gue tidak yakin.

" Tadi kata satpamnya bisa, coba aja" . kata Nadya sambil siap-siap menghentikan busway.

Ketika busway nya udah lumayan deket, dengan semangat Nadya melambai-lambaikan tangan demi memberhentikan tuh busway. Jujur, gue ga terlalu liat, soalnya gue malu banget.

Dan bener aja feeling ga enak gue, tuh supir busway lanjut jalan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menunjuk ke ke arah belakang.


Terus kita langsung diem.



Dan langsung ngakak.



" Anjrit. Kayaknya bener harus naik angkot Nad. "


Dan setelah kita berdua pikir-pikir lagi, emang sih agak aneh juga. Oke, bukan agak aneh lagi, TAPI EMANG ANEH BANGET. BAYANGKAN, KITA (atau lebih tepatnya Nadya, temanku yang tidak tahu malu itu) MENCOBA MENGHENTIKAN BUSWAY DI PINGGIR JALAN SEOLAH-OLAH BUSWAY ITU ADALAH ANGKOT.



Dan itu menjadi joke selama perjalanan kita pulang.















Sampai jumpa di petualangan selanjutnya!

See previous posts :

0 Words from....:

Post a Comment